Selasa, 19 Februari 2013

Cerpen Curcol :)

Malaikat tanpa Sayap

         CINTA! Siapa yang tidak mengenal kata itu? Kata yang selalu menghiasi hari-hari setiap insan manusia. Khususnya para remaja, tak ketinggalan juga, aku. Aku seorang gadis yang baik, sopan, ramah, friendly, cuek dan terkadang galak, saat ini sedang dilema akan nasib cintaku terhadap Iqbal. Ya, Iqbal! Cowok yang kukenal selama setahun ini, ternyata mampu membuatku jatuh hati dan seringnya ku dilanda kegalauan.
          Setahun yang lalu, aku tak sengaja mendapat sebuah bunga tidur, yaitu di dalam mimpi, aku  mengalami kejadian bahwa Iqbal menyatakan perasaannya kepadaku. Sejak mengalami mimpi tersebut, entah mengapa aku pun menjadi jatuh hati kepadanya. Namun sayangnya, sikap Iqbal terkadang tak menentu kepadaku.
            ***
         “April, udah setahun nie. Kamu masih ada perasaan gak sama si Iqbal?” tanya Meilin sahabatku. Hufft, pertanyaan itu terkadang membuatku sedih. Karna buatku, apa gunanya aku bertahan menyukainya tapi dia tetap tak bisa dan mungkin memang tak akan pernah bisa menyukaiku.
“Hmm, iya. Aku masih menyukainya, Mei. Tapi ......” ucapku tertahan.
“Tapi apa, Pril?” tanya Meilin lagi.
          Seketika, seseorang yang sedang aku dan Meilin bicarakan pun lewat di hadapan kami. Saat itu, aku hanya bisa terdiam, seakan mengabaikan sahabatku dan sosok yang melewati kami itu. Aku tak sanggup jika harus melihatnya, walau itu hanya untuk sedetik saja. “April-April, si Iqbal lewatkan. Kenapa kamu gak menegurnya, kenapa kamu malah diam mengalihkan pandangan begitu saja ketika dia lewat?” tanya Meilin yang memang sejak Iqbal lewat dia melihatku hanya diam. “Tau gak, tadi dia sempat melihat ke kamu. Tapi, dia langsung mengalihkan pandangan ke aku dan senyum, gitu.” cerita Meilin.
          Mendengar cerita dari Meilin tentang Iqbal tadi, aku hanya menyesali tingkahku. Iya, benar! Kenapa aku tadi hanya diam, kenapa aku tidak menyempatkan diri untuk sejenak melihatnya, kenapa aku tidak mencoba menyapanya???? KENAPA??!!
 Hufft, itu! Itu penyesalan yang seketika hadir begitu saja di dalam hati dan pikiranku. Tapi? Percuma, PERCUMA jika aku melakukan hal seperti itu. Iqbal gak akan mungkin mau meresponku. Bahkan, mungkin dia menganggapku hanya ingin mencari perhatian di depannya. Hah, hanya membuang waktuku saja jika memikirkannya.
          ***
        Sepulang sekolah, tanpa membuang waktu, aku pun bergegas membuka buku diary dan menuangkan segala keluh kesahku.
jum’at, 9 november 2012....
dear diary. terkadang aku berpikir, mengapa aku dapat bertahan untuk terus menyukai dirinya? dia memang Malaikat tanpa Sayapku, tapi itu dulu. ya, DULU! apakah aku harus terus bertahan dan berharap kepadanya, apakah aku harus berharap pada sebuah harapan kosong???? hah, betapa bodohnya aku yang telah membiarkan hati kecilku terperangkap untuk terus menyukainya!!!!
          Sesaat kemudian, aku pun menutup buku diary ku dan bergegas berganti pakaian. Setelah itu, aku tidur siang sejenak untuk melepas kepenatan akibat dari banyaknya aktivitasku di sekolah.
Entah mengapa di saatku tidur, sosok Iqbal hadir. Dan seakan di mimpiku, dia benar-benar menjadi malaikat buatku. Malaikat yang untuk sejenak dikirim Tuhan untuk menghibur diriku walau hanya dalam sebuah mimpi singkatku. Hufft! Menyakitkan, tapi sudahlah. Aku  tak dapat meminta sesuatu yang lebih dari Tuhan tentang cowok super duper cuek itu.
          ***
Keesokan harinya di sekolah.
“Apriillllllllllll!!” teriak Fera, teman sekelasku.
“Ada apa, Fer? Gak usah pake teriak gitu deh, aku dengar kok. Ada apa, Mbak Bro?” tanyaku.
“Hehe, iya maaf. Itu, kamu dapat salam dari Muhammad Iqbal, lho.” jawab Fera yang membuatku kaget. “Aprilita, gak usah pake kaget segala bisakan? Aku tuh ngomong beneran tau, ya udah kalo kamu gak mau percaya!” lanjut Fera yang memang memperhatikanku.
“Haha. Gak gitu, cantik. Cuman, kaget binti bingung aja. Kok bisa gitu, aku dapat salam dari dia?” tanyaku dengan ekspresi kebingungan.
“Bisa donk! Semuakan karna Fera! Jadi gini, tadi aku tuh ngeliat dia, ya udah aku test panggil aja. Eeh, dianya ngerespon. Terus aku lanjutin aja bilang ke dia kalo kamu nitip salam gitu. Haha, gak kusangka dia malah ngejawab salam balik gitu buat kamu, padahalkan aku bohong.” ucap Fera memberi penjelasan dengan memasang muka seakan tak berdosa atas sikap yang telah dia perbuat.
“Ouuh, gitu. Ada-ada aja, kamu. Walau bohong, hal seperti itu membuatku malu tau.” lanjutku jujur.
Deg! MALU???? Kenapa aku mesti malu, ya? Tapi, kenapa dia juga tumben banget mau merespon ucapan yang berhubungan denganku? Ada apa dengan sikapnya akhir-akhir ini? Kenapa seakan dia kembali memberi sebuah harapan buatku? Hufft, sudahlah. Paling beberapa hari kemudian dia akan menghancurkan harapan itu. Ya, MENGHANCURKAN. Seperti semua sikapnya selama ini ke aku. Hanya bisa MEMBERIKAN SEBUAH HARAPAN KOSONG!
          “April, kok jadi bengong? Pasti lagi senengkan karna dapat salam dari Iqbal, ngaku aja deh. Kamu malu tapi senengkan, ya kan?” ledek Fera terhadapku.
“Eeh, apaan sih? Gak kok, biasa aja. Kamu nie. Udah ahh, yuk bantu teman-teman yang lain!” jawabku mengalihkan pembicaraan.
          Akhirnya, kami pun mengakhiri perbincangan dan mulai membantu teman-teman untuk membersihkan ruang kelas. Akan tetapi, pikiranku tetap saja tak bisa tenang dan terus tertuju pada topik pembicaraan yang aku perbincangkan bersama Fera. Apakah sosok Malaikat tanpa Sayap itu akan kembali hadir di dalam sikap dari seorang Iqbal yang telah lama aku tak melihat sosok itu lagi di dalam dirinya? Hufft, entahlah. Biarlah semua berjalan seperti apa adanya.
          ***
         Beberapa hari setelah perkataan Fera mengenai salam yang Iqbal berikan kepadaku, entah mengapa aku merasa kini Iqbal jarang terlihat. Terkadang ada perasaan rindu yang bersarang di hati, perasaan yang merindukan akan dirinya yang terkadang kulihat sedang berdiri tanpa ekspresi. Tapi, itulah yang dapat membuatku diam-diam tersenyum.
          Di saat aku merindukannya, terkadang dengan tak sengaja, aku pun meneteskan air mata. Sering aku berpikir, mengapa aku harus menangis karnanya? Mengapa aku harus merindukan seseorang yang mungkin tak merindukanku, mengapa juga aku bisa menangis karna mengingatnya????
         Pernah! Sejenak terlintas di benakku, jika suatu saat nanti aku tak dapat melihatnya lagi dan aku masih dapat menyukainya, kuingin menuangkan seluruh perasaanku pada secarik kertas putih yang akan kuberikan kepadanya. Walau mungkin hanya sekedar membuang waktuku saja, tapi setidaknya aku ingin memberitahukan kepadanya, bahwa : selama ini ada seorang cewek yang setia untuk menyukaimu tanpa sebab, walaupun dia tak pernah diberi sebuah harapan pasti yang akan membuat hatinya menyenandungkan alunan lagu cinta, tapi rasa sayangnya tak pernah luntur dia berikan kepada sesosok cowok yang pernah hadir di dalam mimpi indahnya dan yang pernah dikirim Tuhan untuk menjadi Malaikat tanpa Sayapnya, dan taukah bahwa sosok cowok itu adalah kamu, Muhammad Iqbal!

6 komentar:

married ? who ? :O

married ? who ? :O