Malaikat tanpa Sayap
CINTA! Siapa yang
tidak mengenal kata itu? Kata yang selalu menghiasi hari-hari setiap insan
manusia. Khususnya para remaja, tak ketinggalan juga, aku. Aku seorang gadis
yang baik, sopan, ramah, friendly, cuek dan terkadang galak, saat ini sedang
dilema akan nasib cintaku terhadap Iqbal. Ya, Iqbal! Cowok yang kukenal selama
setahun ini, ternyata mampu membuatku jatuh hati dan seringnya ku dilanda
kegalauan.
Setahun yang lalu, aku tak sengaja
mendapat sebuah bunga tidur, yaitu di dalam mimpi, aku mengalami kejadian bahwa Iqbal menyatakan
perasaannya kepadaku. Sejak mengalami mimpi tersebut, entah mengapa aku pun
menjadi jatuh hati kepadanya. Namun sayangnya, sikap Iqbal terkadang tak
menentu kepadaku.
***
“April, udah setahun nie. Kamu masih ada
perasaan gak sama si Iqbal?” tanya Meilin sahabatku. Hufft, pertanyaan itu
terkadang membuatku sedih. Karna buatku, apa gunanya aku bertahan menyukainya
tapi dia tetap tak bisa dan mungkin memang tak akan pernah bisa menyukaiku.
“Hmm, iya. Aku masih menyukainya, Mei.
Tapi ......” ucapku tertahan.
“Tapi apa, Pril?” tanya Meilin lagi.
Seketika, seseorang yang sedang aku
dan Meilin bicarakan pun lewat di hadapan kami. Saat itu, aku hanya bisa
terdiam, seakan mengabaikan sahabatku dan sosok yang melewati kami itu. Aku tak
sanggup jika harus melihatnya, walau itu hanya untuk sedetik saja.
“April-April, si Iqbal lewatkan. Kenapa kamu gak menegurnya, kenapa kamu malah
diam mengalihkan pandangan begitu saja ketika dia lewat?” tanya Meilin yang
memang sejak Iqbal lewat dia melihatku hanya diam. “Tau gak, tadi dia sempat
melihat ke kamu. Tapi, dia langsung mengalihkan pandangan ke aku dan senyum,
gitu.” cerita Meilin.
Mendengar cerita dari Meilin tentang
Iqbal tadi, aku hanya menyesali tingkahku. Iya, benar! Kenapa aku tadi hanya
diam, kenapa aku tidak menyempatkan diri untuk sejenak melihatnya, kenapa aku
tidak mencoba menyapanya???? KENAPA??!!
Hufft, itu! Itu penyesalan yang
seketika hadir begitu saja di dalam hati dan pikiranku. Tapi? Percuma, PERCUMA jika
aku melakukan hal seperti itu. Iqbal gak akan mungkin mau meresponku. Bahkan, mungkin
dia menganggapku hanya ingin mencari perhatian di depannya. Hah, hanya membuang
waktuku saja jika memikirkannya.
***
Sepulang sekolah, tanpa membuang waktu,
aku pun bergegas membuka buku diary
dan menuangkan segala keluh kesahku.
jum’at, 9 november
2012....
dear diary.
terkadang aku berpikir, mengapa aku dapat bertahan untuk terus menyukai dirinya?
dia memang Malaikat tanpa Sayapku, tapi itu dulu. ya, DULU! apakah aku harus
terus bertahan dan berharap kepadanya, apakah aku harus berharap pada sebuah
harapan kosong???? hah, betapa bodohnya aku yang telah membiarkan hati kecilku
terperangkap untuk terus menyukainya!!!!
Sesaat kemudian, aku pun menutup buku diary ku dan bergegas berganti pakaian.
Setelah itu, aku tidur siang sejenak untuk melepas kepenatan akibat dari
banyaknya aktivitasku di sekolah.
Entah mengapa di saatku tidur, sosok
Iqbal hadir. Dan seakan di mimpiku, dia benar-benar menjadi malaikat buatku. Malaikat
yang untuk sejenak dikirim Tuhan untuk menghibur diriku walau hanya dalam
sebuah mimpi singkatku. Hufft! Menyakitkan, tapi sudahlah. Aku tak dapat meminta sesuatu yang lebih dari
Tuhan tentang cowok super duper cuek itu.
***
Keesokan
harinya di sekolah.
“Apriillllllllllll!!” teriak Fera,
teman sekelasku.
“Ada apa, Fer? Gak usah pake teriak
gitu deh, aku dengar kok. Ada apa, Mbak Bro?” tanyaku.
“Hehe, iya maaf. Itu, kamu dapat salam
dari Muhammad Iqbal, lho.” jawab Fera yang membuatku kaget. “Aprilita, gak usah
pake kaget segala bisakan? Aku tuh ngomong beneran tau, ya udah kalo kamu gak
mau percaya!” lanjut Fera yang memang memperhatikanku.
“Haha. Gak gitu, cantik. Cuman, kaget
binti bingung aja. Kok bisa gitu, aku dapat salam dari dia?” tanyaku dengan
ekspresi kebingungan.
“Bisa donk! Semuakan karna Fera! Jadi
gini, tadi aku tuh ngeliat dia, ya udah aku test panggil aja. Eeh, dianya
ngerespon. Terus aku lanjutin aja bilang ke dia kalo kamu nitip salam gitu.
Haha, gak kusangka dia malah ngejawab salam balik gitu buat kamu, padahalkan
aku bohong.” ucap Fera memberi penjelasan dengan memasang muka seakan tak
berdosa atas sikap yang telah dia perbuat.
“Ouuh, gitu. Ada-ada aja, kamu. Walau
bohong, hal seperti itu membuatku malu tau.” lanjutku jujur.
Deg! MALU???? Kenapa aku mesti malu,
ya? Tapi, kenapa dia juga tumben banget mau merespon ucapan yang berhubungan
denganku? Ada apa dengan sikapnya akhir-akhir ini? Kenapa seakan dia kembali
memberi sebuah harapan buatku? Hufft, sudahlah. Paling beberapa hari kemudian
dia akan menghancurkan harapan itu. Ya, MENGHANCURKAN. Seperti semua sikapnya
selama ini ke aku. Hanya bisa MEMBERIKAN SEBUAH HARAPAN KOSONG!
“April, kok jadi bengong? Pasti lagi
senengkan karna dapat salam dari Iqbal, ngaku aja deh. Kamu malu tapi
senengkan, ya kan?” ledek Fera terhadapku.
“Eeh, apaan sih? Gak kok, biasa aja.
Kamu nie. Udah ahh, yuk bantu teman-teman yang lain!” jawabku mengalihkan
pembicaraan.
Akhirnya, kami pun mengakhiri
perbincangan dan mulai membantu teman-teman untuk membersihkan ruang kelas.
Akan tetapi, pikiranku tetap saja tak bisa tenang dan terus tertuju pada topik
pembicaraan yang aku perbincangkan bersama Fera. Apakah sosok Malaikat tanpa Sayap
itu akan kembali hadir di dalam sikap dari seorang Iqbal yang telah lama aku
tak melihat sosok itu lagi di dalam dirinya? Hufft, entahlah. Biarlah semua
berjalan seperti apa adanya.
***
Beberapa hari setelah perkataan Fera
mengenai salam yang Iqbal berikan kepadaku, entah mengapa aku merasa kini Iqbal
jarang terlihat. Terkadang ada perasaan rindu yang bersarang di hati, perasaan
yang merindukan akan dirinya yang terkadang kulihat sedang berdiri tanpa
ekspresi. Tapi, itulah yang dapat membuatku diam-diam tersenyum.
Di saat aku merindukannya, terkadang
dengan tak sengaja, aku pun meneteskan air mata. Sering aku berpikir, mengapa aku
harus menangis karnanya? Mengapa aku harus merindukan seseorang yang mungkin
tak merindukanku, mengapa juga aku bisa menangis karna mengingatnya????
Pernah! Sejenak terlintas di benakku,
jika suatu saat nanti aku tak dapat melihatnya lagi dan aku masih dapat
menyukainya, kuingin menuangkan seluruh perasaanku pada secarik kertas putih
yang akan kuberikan kepadanya. Walau mungkin hanya sekedar membuang waktuku
saja, tapi setidaknya aku ingin memberitahukan kepadanya, bahwa : selama ini
ada seorang cewek yang setia untuk menyukaimu tanpa sebab, walaupun dia tak
pernah diberi sebuah harapan pasti yang akan membuat hatinya menyenandungkan
alunan lagu cinta, tapi rasa sayangnya tak pernah luntur dia berikan kepada
sesosok cowok yang pernah hadir di dalam mimpi indahnya dan yang pernah dikirim
Tuhan untuk menjadi Malaikat tanpa Sayapnya, dan taukah bahwa sosok cowok itu
adalah kamu, Muhammad Iqbal!